Jakarta, studyinca.ac.id – Bagi banyak mahasiswa, interview kerja adalah momen yang rasanya campur aduk. Antara deg-degan, berharap, dan sedikit takut. Selama kuliah, kita terbiasa dinilai lewat tugas, presentasi, dan ujian tertulis. Tapi begitu masuk tahap interview kerja, semuanya terasa beda. Tidak ada jawaban mutlak benar atau salah, dan penilaiannya sering kali terasa subjektif.
Pengetahuan mahasiswa tentang interview kerja sering kali masih dangkal. Banyak yang mengira interview hanya soal menjawab pertanyaan dengan benar. Padahal, interview kerja adalah proses dua arah. Perusahaan menilai kandidat, tapi kandidat juga sedang mengenal perusahaan. Sayangnya, tidak semua mahasiswa menyadari ini sejak awal.
Di kampus, pembahasan soal interview kerja biasanya hanya disinggung sekilas. Fokus utama masih pada akademik. IPK dikejar, organisasi diikuti, sertifikat dikumpulkan. Semua itu penting, tapi ketika duduk di hadapan recruiter, yang diuji bukan hanya CV. Cara bicara, sikap, kejujuran, bahkan cara mengelola emosi ikut dinilai.
Banyak mahasiswa kaget saat interview pertama. Ada yang mendadak blank, ada yang terlalu kaku, ada juga yang terlalu percaya diri sampai terdengar sombong. Ini wajar, sih. Interview kerja memang pengalaman yang tidak bisa sepenuhnya dipelajari dari teori.
Di sinilah pentingnya membangun pengetahuan mahasiswa tentang interview kerja sejak dini. Bukan untuk menciptakan jawaban yang kaku dan dihafal, tapi untuk memahami konteks, alur, dan tujuan dari proses interview itu sendiri. Karena interview kerja bukan sekadar formalitas, tapi pintu masuk ke dunia profesional yang sesungguhnya.
Kesalahan Umum Mahasiswa Saat Interview Kerja

Kalau melihat berbagai pengalaman yang sering dibagikan di ruang publik, ada pola kesalahan yang cukup sering dilakukan mahasiswa saat interview kerja. Dan menariknya, kesalahan ini sering bukan karena kurang pintar, tapi karena kurang siap secara mental dan strategi.
Salah satu kesalahan paling umum adalah menjawab pertanyaan tanpa arah. Ketika ditanya “ceritakan tentang diri kamu”, banyak mahasiswa justru menceritakan riwayat hidup secara panjang lebar tanpa fokus. Padahal, recruiter biasanya ingin tahu relevansi pengalaman dengan posisi yang dilamar.
Ada juga mahasiswa yang terlalu sibuk ingin terlihat sempurna. Semua jawaban dibuat seolah tanpa celah. Tidak pernah gagal, tidak pernah salah. Masalahnya, ini justru terdengar tidak manusiawi. Interviewer yang berpengalaman biasanya lebih tertarik pada cara kandidat menghadapi kegagalan, bukan pada klaim kesempurnaan.
Kesalahan lain adalah kurangnya riset tentang perusahaan. Masih banyak mahasiswa datang interview dengan pengetahuan minim soal tempat yang mereka lamar. Nama perusahaan tahu, tapi visi, produk, atau budaya kerja tidak dipahami. Ini sering dianggap sepele, padahal dampaknya besar.
Pengetahuan mahasiswa tentang interview kerja juga sering kurang dalam hal komunikasi non-verbal. Kontak mata yang terlalu minim, nada bicara terlalu pelan, atau bahasa tubuh yang tertutup bisa memberi kesan tidak percaya diri. Padahal, isi jawaban mungkin sebenarnya bagus.
Ada juga yang terlalu santai. Datang telat beberapa menit, berpakaian asal-asalan, atau menjawab dengan gaya terlalu kasual. Memang, banyak perusahaan sekarang terlihat fleksibel. Tapi interview tetaplah situasi profesional. Sikap tetap jadi penilaian penting.
Kesalahan-kesalahan ini bukan untuk ditertawakan. Justru ini jadi pelajaran berharga. Dengan memahami kesalahan umum, mahasiswa bisa lebih siap dan tidak mengulang pola yang sama.
Pengetahuan Mahasiswa tentang Pertanyaan Interview yang Sering Muncul
Salah satu cara meningkatkan kesiapan interview kerja adalah memahami jenis pertanyaan yang sering muncul. Bukan untuk menghafal jawaban, tapi untuk memahami pola berpikir recruiter.
Pertanyaan klasik seperti “apa kelebihan dan kekurangan kamu” masih sering muncul. Banyak mahasiswa menjawab dengan template yang sama. Kelebihan yang terdengar klise, kekurangan yang sebenarnya kelebihan terselubung. Interviewer biasanya bisa langsung menangkap pola ini.
Pengetahuan mahasiswa yang lebih matang akan membuat jawaban terasa lebih jujur dan reflektif. Misalnya, mengakui kekurangan tertentu lalu menjelaskan bagaimana cara mengatasinya. Ini menunjukkan kesadaran diri dan kemauan berkembang.
Pertanyaan tentang pengalaman organisasi atau magang juga sering jadi andalan. Di sini, bukan seberapa banyak pengalaman yang dinilai, tapi bagaimana mahasiswa memaknainya. Apa peran yang dijalani, tantangan yang dihadapi, dan pelajaran yang didapat.
Ada juga pertanyaan situasional. Misalnya, bagaimana menghadapi konflik tim atau tekanan deadline. Pertanyaan seperti ini menguji cara berpikir dan pengambilan keputusan. Jawaban yang terlalu teoritis biasanya terasa kosong. Pengalaman nyata, meski sederhana, justru lebih kuat.
Pertanyaan tentang rencana masa depan juga sering bikin mahasiswa gugup. Banyak yang takut terlihat tidak loyal jika menjawab terlalu jujur. Padahal, interviewer biasanya paham bahwa mahasiswa masih dalam fase eksplorasi. Yang penting adalah logika dan konsistensi jawaban.
Dengan pengetahuan yang cukup, mahasiswa bisa melihat pertanyaan interview bukan sebagai jebakan, tapi sebagai ruang untuk bercerita. Bercerita tentang diri sendiri, dengan jujur dan relevan.
Mental Mahasiswa Menghadapi Interview Kerja
Selain pengetahuan teknis, mental adalah faktor besar dalam interview kerja. Banyak mahasiswa sebenarnya kompeten, tapi gugur karena tidak mampu mengelola rasa gugup. Ini sering terjadi, terutama pada interview pertama atau kedua.
Rasa gugup sebenarnya wajar. Bahkan profesional berpengalaman pun bisa merasa tegang. Masalahnya, mahasiswa sering menganggap gugup sebagai tanda kelemahan. Akhirnya, mereka panik, dan performa menurun.
Pengetahuan mahasiswa tentang interview kerja seharusnya juga mencakup kesiapan mental. Memahami bahwa interview bukan interogasi, tapi percakapan profesional. Recruiter bukan musuh, tapi mitra diskusi.
Salah satu cara membangun mental adalah dengan latihan. Simulasi interview, baik dengan teman atau dosen, bisa sangat membantu. Bukan untuk menciptakan jawaban baku, tapi untuk membiasakan diri berbicara tentang diri sendiri secara profesional.
Penerimaan terhadap kemungkinan gagal juga penting. Banyak mahasiswa merasa satu kegagalan interview adalah akhir segalanya. Padahal, interview adalah proses belajar. Setiap penolakan membawa pelajaran, meski rasanya pahit.
Mental yang sehat juga membantu mahasiswa bersikap lebih autentik. Tidak berpura-pura jadi orang lain. Tidak berusaha menebak jawaban yang “paling benar”. Autentisitas ini sering kali justru jadi nilai plus.
Di dunia kerja nyata, tidak ada kandidat sempurna. Yang dicari adalah orang yang mau belajar, bisa diajak bekerja sama, dan punya sikap yang tepat. Dan itu semua sangat terkait dengan mental saat interview.
Peran Kampus dan Lingkungan dalam Mempersiapkan Interview Kerja
Kesiapan interview kerja mahasiswa tidak bisa dilepaskan dari peran kampus dan lingkungan sekitar. Sayangnya, masih banyak kampus yang menganggap urusan kerja adalah tanggung jawab mahasiswa sepenuhnya.
Padahal, kampus punya posisi strategis. Melalui pusat karier, seminar, atau mata kuliah pendukung, pengetahuan mahasiswa tentang interview kerja bisa ditingkatkan. Bukan hanya teori, tapi praktik langsung.
Beberapa kampus sudah mulai mengadakan mock interview dengan praktisi. Ini langkah positif. Mahasiswa bisa merasakan suasana interview nyata, mendapat feedback langsung, dan memperbaiki diri sebelum terjun ke dunia kerja sesungguhnya.
Lingkungan pertemanan juga berpengaruh besar. Diskusi ringan tentang pengalaman interview, berbagi cerita gagal dan lolos, bisa membuka perspektif baru. Mahasiswa jadi sadar bahwa mereka tidak sendirian.
Keluarga juga punya peran, meski sering tidak disadari. Dukungan emosional, bukan tekanan berlebihan, sangat membantu. Interview kerja sudah cukup menegangkan tanpa tambahan ekspektasi yang terlalu berat.
Dalam banyak liputan nasional, sering disebutkan bahwa kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia kerja masih jadi tantangan. Interview kerja adalah salah satu titik di mana kesenjangan itu paling terasa. Karena itu, kolaborasi semua pihak sangat dibutuhkan.
Dengan ekosistem yang mendukung, mahasiswa tidak hanya siap secara teknis, tapi juga lebih percaya diri dan realistis menghadapi proses interview.
Interview Kerja sebagai Proses Belajar Mahasiswa
Pada akhirnya, interview kerja bukan sekadar tahap seleksi. Bagi mahasiswa, ini adalah proses belajar yang sangat berharga. Setiap interview mengajarkan sesuatu, baik tentang diri sendiri maupun tentang dunia kerja.
Mahasiswa belajar mengenali kekuatan dan kelemahan mereka. Belajar menyampaikan ide secara ringkas. Belajar membaca situasi dan beradaptasi. Semua ini adalah keterampilan hidup yang berguna jauh melampaui satu pekerjaan.
Pengetahuan mahasiswa tentang interview kerja akan terus berkembang seiring pengalaman. Jawaban yang terasa kaku di interview pertama mungkin jadi lebih natural di interview kelima. Itu proses yang wajar.
Yang penting adalah sikap terbuka untuk belajar. Tidak cepat puas saat lolos, dan tidak terlalu larut saat gagal. Interview kerja adalah maraton, bukan sprint. Kadang jalannya lurus, kadang berbelok, kadang terasa lambat.
Di era sekarang, dunia kerja berubah cepat. Posisi yang ada hari ini bisa hilang besok. Kemampuan menghadapi interview dengan adaptif dan reflektif akan jadi aset jangka panjang bagi mahasiswa.
Jadi, jika kamu mahasiswa yang sedang bersiap menghadapi interview kerja, ingat satu hal. Kamu tidak hanya sedang dinilai. Kamu juga sedang tumbuh. Dan setiap proses, sesulit apa pun, selalu membawa pelajaran.
Temukan Konten Menarik Lainnya Dari Kategori Yang Sama Di Sini: Pengetahuan
Artikel Pilihan Ini Layak Kamu Baca Untuk Menambah Wawasan: CV Mahasiswa: Tips dan Trik Menyusun CV yang Relevan, Jujur, dan Siap Bersaing Sejak Bangku Kuliah

