Jakarta, studyinca.ac.id – Satu siang yang gerimis di kampus, saya sempat duduk ngobrol bareng dua teman. Yang satu mahasiswa teknik, satu lagi arsitektur. Obrolan kami awalnya ringan: soal deadline, dosen killer, dan harga kopi kekinian yang makin mahal. Tapi entah bagaimana, topik melompat ke pertanyaan, “Sebenernya, apa sih arti hidup?”
Sontak semua terdiam. Lucunya, kita bisa debat panjang soal motor listrik dan AI, tapi pas masuk ke pertanyaan mendasar kayak gitu, blank.
Di sinilah ilmu filsafat sebenarnya berperan. Bukan buat sok-sokan jadi Sokrates di zaman digital, tapi supaya kita nggak terjebak jadi generasi yang cepat paham teknologi, tapi lambat mencerna makna.
Ilmu filsafat bukan cuma milik mahasiswa sastra atau fakultas humaniora. Bahkan anak teknik, bisnis, hingga kedokteran pun perlu belajar dasar-dasarnya. Karena di balik rumus, algoritma, dan protokol medis, selalu ada pertanyaan-pertanyaan mendalam: Apakah ini etis? Apakah ini adil? Apa makna tindakan saya bagi dunia?
Dengan memahami filsafat, mahasiswa tidak hanya cerdas secara teknis, tapi juga utuh secara cara berpikir.
Apa Itu Ilmu Filsafat? Definisi, Akar, dan Tujuan Nyatanya

Filsafat berasal dari bahasa Yunani: “philos” (cinta) dan “sophia” (kebijaksanaan). Artinya, cinta pada kebijaksanaan. Tapi definisi ini terdengar terlalu romantis dan nggak praktis.
Dalam praktiknya, filsafat adalah cara berpikir kritis, logis, dan mendalam terhadap pertanyaan-pertanyaan mendasar dalam hidup.
Misalnya:
-
Apa itu kebenaran?
-
Apakah keadilan itu universal?
-
Apakah manusia punya kehendak bebas?
-
Bagaimana kita tahu sesuatu itu benar?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan cuma cocok di kelas diskusi, tapi juga relevan di lapangan hidup.
Cabang Utama Filsafat:
-
Epistemologi: Studi tentang pengetahuan. Apa yang kita tahu dan bagaimana kita tahu itu?
-
Etika: Pertanyaan tentang moralitas. Mana yang baik dan buruk?
-
Logika: Alat berpikir yang rasional dan sistematis.
-
Metafisika: Studi tentang eksistensi dan realitas. Apa itu “ada”?
-
Estetika: Studi tentang keindahan dan nilai seni.
Setiap cabang ini punya tempatnya dalam kehidupan mahasiswa. Misalnya, logika sangat penting buat debat akademik atau menyusun argumen dalam skripsi. Etika diperlukan dalam riset atau keputusan sosial. Epistemologi membantu membedakan mana opini, mana data.
Jadi, meski terdengar “ngawang”, filsafat itu sangat membumi—asal mau melihat lebih dalam.
Filsafat dan Mahasiswa: Cara Berpikir yang Menyelamatkan di Era Disinformasi
Di tengah ledakan informasi, clickbait, hoaks, dan filter bubble, mahasiswa dituntut tidak hanya pintar, tapi tajam dalam menilai dan memilah. Nah, inilah nilai praktis ilmu filsafat di kehidupan kampus hari ini.
a. Melatih Daya Kritis
Filsafat mengajarkan bahwa tidak semua yang tampak benar itu benar. Ia mendorong kita untuk bertanya: “Kenapa aku percaya ini?” atau “Siapa yang diuntungkan dari argumen ini?”
Contoh nyata: Saat mahasiswa ekonomi membaca berita bahwa “pertumbuhan ekonomi naik”, filsafat akan mengajarkan untuk bertanya: Naik untuk siapa? Apa artinya bagi rakyat kecil?
b. Menyusun Argumen Logis
Dengan bekal logika dasar, mahasiswa bisa menghindari falasi (kesalahan berpikir). Misalnya: ad hominem (menyerang orang, bukan argumennya) atau strawman (memelintir argumen lawan).
Hal ini krusial, apalagi kalau kamu aktif di debat, organisasi, atau nulis opini.
c. Mengembangkan Kesadaran Moral
Filsafat etika membantu kita tidak asal melakukan sesuatu hanya karena “semua orang juga begitu.” Ia mengajak refleksi: Apakah ini benar? Apakah aku melanggar hak orang lain?
Dalam banyak studi kasus—baik di dunia bisnis, kedokteran, atau teknologi—dilema moral jadi hal nyata. Dan hanya mahasiswa yang terbiasa berpikir etis yang bisa menangani itu secara bijak.
Tokoh dan Pemikiran Filsafat yang Relevan untuk Mahasiswa Masa Kini
Sering kali, filsafat dianggap kuno karena isinya tentang pemikir zaman dulu. Tapi tunggu dulu—justru dari para tokoh itulah kita bisa belajar cara berpikir jernih di era yang makin kompleks.
a. Socrates: “The unexamined life is not worth living.”
Sokrates mengajak kita untuk bertanya, mengkritik, dan tidak puas dengan jawaban dangkal. Sangat relevan untuk mahasiswa yang sedang mencari jati diri dan nilai hidup.
b. René Descartes: “I think, therefore I am.”
Descartes menekankan pentingnya keraguan sebagai fondasi berpikir. Di tengah era digital, sikap skeptis ala Descartes sangat penting agar kita tidak mudah terpengaruh opini massa.
c. Immanuel Kant: Etika Kewajiban
Kant percaya bahwa manusia harus bertindak sesuai prinsip moral yang bisa diterapkan secara universal. Ini penting untuk mahasiswa hukum, kedokteran, atau teknik, agar tidak hanya mengejar hasil, tapi mempertimbangkan prinsip.
d. Karl Marx: Kritik terhadap Kapitalisme
Meski kontroversial, pemikiran Marx mendorong mahasiswa untuk melihat struktur ketimpangan. Cocok untuk kamu yang peduli isu sosial dan ingin membangun perubahan.
e. Simone de Beauvoir: Filsafat Feminisme
Ia menantang dominasi patriarki dalam masyarakat. Mahasiswa perempuan (dan laki-laki) bisa belajar bagaimana ketimpangan bisa dibongkar lewat pemikiran yang jernih dan kritis.
Bagaimana Mahasiswa Bisa Mulai Belajar Filsafat Tanpa Overthinking?
Sering kali mahasiswa takut belajar filsafat karena bahasanya rumit, istilahnya asing, dan isinya terkesan berat. Tapi sebenernya, kamu bisa mulai pelan-pelan dengan cara yang sederhana.
a. Mulai dari Pertanyaan, Bukan Jawaban
Tanya dirimu hal-hal mendasar: Kenapa aku kuliah jurusan ini? Apa tujuan hidupku? Apa definisi sukses menurutku?
Dari situ, kamu akan mulai terbiasa berpikir filosofis.
b. Ikut Diskusi Filsafat di Kampus
Banyak UKM atau komunitas filsafat kampus yang membuka ruang dialog santai. Kadang mereka bahas tokoh, kadang bahas film dari sisi filsafat. Ini bisa jadi jembatan awal.
c. Baca Buku Ringan Filsafat
Jangan langsung lompat ke “Being and Time” atau “Critique of Pure Reason”. Coba buku-buku pengantar seperti:
-
Filsafat untuk Pemula (Richard Osborne)
-
Dunia Sophie (Jostein Gaarder)
-
Apakah Filsafat Itu? (Franz Magnis-Suseno)
d. Latih Logika lewat Debat atau Menulis
Filsafat bukan hanya soal baca buku, tapi juga melatih nalar lewat kegiatan nyata. Debat, menulis opini, atau diskusi publik adalah cara praktis untuk mengasahnya.
e. Gabungkan dengan Minat Jurusanmu
Kalau kamu anak teknologi, coba baca filsafat teknologi. Anak kedokteran? Ada filsafat bioetika. Anak bisnis? Filsafat ekonomi dan etika pasar sangat relevan.
Intinya, jangan memisahkan filsafat dari kehidupanmu. Justru, tarik filsafat ke dalam duniamu.
Penutup: Ilmu Filsafat, Bekal Intelektual yang Tak Akan Kadaluarsa
Di zaman yang serba instan dan penuh distraksi, ilmu filsafat hadir sebagai penyeimbang. Ia mengingatkan bahwa berpikir mendalam itu penting. Bahwa dunia ini tak selalu bisa dijelaskan dengan angka, algoritma, atau tren TikTok.
Bagi mahasiswa, filsafat bukan hanya soal menjadi bijak. Tapi menjadi manusia utuh: yang berpikir, merasa, dan bertindak dengan kesadaran penuh.
Filsafat tidak menjanjikanmu karier instan, tapi ia akan melatihmu jadi pribadi yang tak mudah digiring opini, tidak cepat tersulut emosi, dan punya fondasi logika kuat dalam setiap keputusan.
Dan siapa tahu, di tengah riuhnya dunia, kamu menemukan jawaban yang selama ini kamu cari—bukan di ujung Google, tapi di pertanyaan-pertanyaan yang diajarkan oleh para filsuf berabad-abad lalu.
Baca Juga Konten dengan Artikel Terkait Tentang: Pengetahuan
Baca Juga Artikel dari: Ilmu Komunikasi: Kunci Sukses Komunikasi Masa Kini

