Pragmatik

Pragmatik dalam Linguistik dan Contoh Penerapannya

JAKARTA, studyinca.ac.id – Pragmatik menjadi salah satu cabang ilmu linguistik yang semakin penting dipelajari di era komunikasi modern seperti sekarang. Bidang ilmu ini mengkaji bagaimana konteks mempengaruhi makna dalam sebuah ujaran atau percakapan. Pemahaman tentang pragmatik tidak hanya bermanfaat bagi mahasiswa jurusan bahasa, tetapi juga bagi siapa saja yang ingin meningkatkan kemampuan komunikasi efektif dalam kehidupan sehari-hari.

Berbeda dengan semantik yang fokus pada makna kata secara harfiah, pragmatik melihat bahasa dari perspektif penggunaannya dalam situasi nyata. Sebuah kalimat yang sama dapat memiliki makna berbeda tergantung pada siapa yang mengucapkan, kepada siapa disampaikan, di mana, dan dalam kondisi seperti apa. Pemahaman mendalam tentang pragmatik akan membantu seseorang menjadi komunikator yang lebih peka dan efektif.

Pengertian Pragmatik dalam Kajian Linguistik

Pragmatik

Pragmatik merupakan cabang linguistik yang mempelajari hubungan antara bahasa dan konteks penggunaannya. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani “pragma” yang berarti tindakan atau urusan. Secara sederhana, pragmatik mengkaji bagaimana penutur menggunakan bahasa dalam konteks tertentu dan bagaimana pendengar menafsirkan maksud sebenarnya dari ujaran tersebut.

Para ahli linguistik mendefinisikan pragmatik dengan berbagai perspektif yang saling melengkapi. George Yule menyatakan bahwa pragmatik adalah studi tentang makna yang dikomunikasikan oleh penutur dan ditafsirkan oleh pendengar. Sementara itu, Levinson mendefinisikan pragmatik sebagai kajian tentang hubungan antara bahasa dan konteks yang mendasari penjelasan tentang pemahaman bahasa.

Dalam konteks akademis Indonesia, pragmatik sering disandingkan dengan sosiolinguistik dan analisis wacana sebagai bagian dari kajian bahasa yang memperhatikan aspek sosial dan kontekstual. Ketiga bidang ini saling berkaitan namun memiliki fokus kajian yang berbeda.

Sejarah Perkembangan Ilmu Pragmatik

Ilmu pragmatik memiliki sejarah panjang yang berakar dari filsafat bahasa sebelum akhirnya berkembang menjadi disiplin linguistik tersendiri. Pemahaman tentang sejarah ini penting untuk mengetahui bagaimana konsep-konsep dalam pragmatik terbentuk dan berkembang.

Tonggak sejarah perkembangan pragmatik:

  1. Era 1930-an: Charles Morris memperkenalkan istilah pragmatik sebagai bagian dari semiotika
  2. Era 1950-an: J.L. Austin mengembangkan teori tindak tutur melalui kuliah “How to Do Things with Words”
  3. Era 1960-an: John Searle menyempurnakan teori tindak tutur dengan klasifikasi yang lebih sistematis
  4. Era 1970-an: H.P. Grice memperkenalkan prinsip kerja sama dan implikatur percakapan
  5. Era 1980-an: Geoffrey Leech mengembangkan prinsip kesantunan dalam pragmatik
  6. Era 1990-an hingga sekarang: Pragmatik berkembang ke arah kajian lintas budaya dan pragmatik digital

Perkembangan pragmatik tidak terlepas dari kontribusi para pemikir dari berbagai disiplin ilmu. Filsuf, linguis, dan ilmuwan kognitif bersama-sama membangun fondasi teori yang menjadikan pragmatik sebagai bidang kajian yang kaya dan multidimensi.

Ruang Lingkup Kajian Pragmatik

Pragmatik mencakup berbagai aspek penggunaan bahasa yang sangat luas. Memahami ruang lingkup ini akan membantu memetakan berbagai topik yang menjadi fokus kajian dalam bidang ilmu ini.

Ruang lingkup utama pragmatik meliputi:

  • Deiksis atau rujukan yang bergantung pada konteks ujaran
  • Tindak tutur atau tindakan yang dilakukan melalui ujaran
  • Implikatur atau makna tersirat di balik ujaran
  • Praanggapan atau asumsi yang melatarbelakangi ujaran
  • Prinsip kerja sama dalam percakapan
  • Kesantunan berbahasa dalam berbagai konteks budaya
  • Struktur dan organisasi percakapan

Setiap aspek dalam ruang lingkup ini memiliki teori dan konsep tersendiri yang telah dikembangkan oleh para ahli. Kajian pragmatik modern sering menggabungkan beberapa aspek sekaligus untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang fenomena kebahasaan tertentu.

Konsep Deiksis dalam Pragmatik

Deiksis menjadi salah satu konsep fundamental dalam kajian pragmatik yang harus dipahami oleh setiap pembelajar. Istilah ini merujuk pada kata atau ungkapan yang maknanya bergantung pada konteks ujaran, terutama konteks siapa, di mana, dan kapan ujaran tersebut disampaikan.

Jenis-jenis deiksis dalam pragmatik:

  1. Deiksis persona: Merujuk pada peserta tutur seperti “saya”, “kamu”, “dia”, dan “mereka”
  2. Deiksis ruang atau tempat: Menunjukkan lokasi seperti “di sini”, “di sana”, dan “di sebelah”
  3. Deiksis waktu: Mengacu pada waktu seperti “sekarang”, “kemarin”, dan “besok”
  4. Deiksis wacana: Merujuk pada bagian wacana seperti “seperti disebutkan di atas” atau “berikut ini”
  5. Deiksis sosial: Menunjukkan hubungan sosial seperti penggunaan “Bapak”, “Ibu”, atau “Anda”

Pemahaman tentang deiksis sangat penting dalam komunikasi sehari-hari maupun dalam penerjemahan. Sebuah kalimat seperti “Saya akan ke sana besok” hanya dapat dipahami maknanya jika pendengar mengetahui siapa yang berbicara, di mana “sana” yang dimaksud, dan kapan “besok” itu.

Teori Tindak Tutur dalam Pragmatik

Teoritindak tutur menjadi salah satu kontribusi terpenting dalam perkembangan ilmu pragmatik. Teori ini dikembangkan oleh J.L. Austin dan kemudian disempurnakan oleh John Searle. Inti dari teori ini adalah bahwa ketika seseorang mengucapkan sesuatu, ia tidak hanya mengatakan sesuatu tetapi juga melakukan sesuatu.

Klasifikasi tindak tutur menurut Searle:

  • Representatif atau asertif: Ujaran yang mengikat penutur pada kebenaran proposisi, seperti menyatakan, melaporkan, atau mengklaim
  • Direktif: Ujaran yang bertujuan membuat pendengar melakukan sesuatu, seperti memerintah, meminta, atau menyarankan
  • Komisif: Ujaran yang mengikat penutur pada tindakan di masa depan, seperti berjanji, bersumpah, atau mengancam
  • Ekspresif: Ujaran yang mengekspresikan keadaan psikologis penutur, seperti mengucapkan terima kasih, meminta maaf, atau memberi selamat
  • Deklaratif: Ujaran yang mengubah status atau keadaan, seperti membaptis, menikahkan, atau memvonis

Teori tindak tutur membantu menjelaskan mengapa sebuah kalimat tanya seperti “Bisakah kamu menutup pintu?” sebenarnya berfungsi sebagai permintaan, bukan pertanyaan tentang kemampuan. Pemahaman ini sangat penting untuk komunikasi yang efektif.

Prinsip Kerja Sama Grice dalam Pragmatik

H.P. Grice memperkenalkan prinsip kerja sama sebagai panduan implisit yang diikuti oleh peserta percakapan untuk memastikan komunikasi berjalan lancar. Prinsip ini terdiri dari empat maksim yang menjadi dasar dalam menganalisis percakapan.

Empat maksim dalam prinsip kerja sama Grice:

  1. Maksim kuantitas: Berikan informasi sesuai yang dibutuhkan, tidak lebih dan tidak kurang
  2. Maksim kualitas: Sampaikan hanya yang diyakini benar dan memiliki bukti yang cukup
  3. Maksim relevansi: Berikan kontribusi yang relevan dengan topik pembicaraan
  4. Maksim cara: Sampaikan dengan jelas, hindari ambiguitas, dan berbicaralah secara teratur

Ketika seseorang melanggar salah satu maksim secara sengaja, pendengar akan mencari makna tambahan di balik ujaran tersebut. Inilah yang disebut sebagai implikatur percakapan. Misalnya, jika ditanya “Bagaimana hasil ujiannya?” dan seseorang menjawab “Cuacanya cerah hari ini”, pendengar akan memahami bahwa ada sesuatu yang tidak ingin disampaikan secara langsung.

Konsep Implikatur dalam KajianPragmatik

Implikatur merupakan konsep sentral dalam pragmatik yang menjelaskan bagaimana penutur dapat menyampaikan lebih dari apa yang secara harfiah dikatakan. Konsep ini sangat penting untuk memahami komunikasi tidak langsung yang sangat umum dalam interaksi sehari-hari.

Jenis-jenis implikatur:

  • Implikatur konvensional: Makna tambahan yang melekat pada kata atau ungkapan tertentu secara konvensional
  • Implikatur percakapan umum: Makna tersirat yang tidak memerlukan konteks khusus untuk dipahami
  • Implikatur percakapan khusus: Makna tersirat yang hanya dapat dipahami dalam konteks percakapan tertentu

Sebagai contoh, ketika seseorang berkata “Sudah jam delapan” kepada anaknya yang masih bermain, makna harfiahnya hanyalah pernyataan tentang waktu. Namun dalam konteks tersebut, implikaturnya adalah “Kamu harus segera tidur” atau “Waktunya berhenti bermain”. Kemampuan memahami implikatur sangat penting dalam komunikasi antarbudaya.

Pragmatik dan Kesantunan Berbahasa

Geoffrey Leech mengembangkan prinsip kesantunan sebagai pelengkap prinsip kerja sama Grice. Dalam banyak situasi, penutur sengaja melanggar maksim tertentu demi menjaga kesantunan dan harmoni sosial. Kajian tentang kesantunan menjadi bagian penting dalam pragmatik lintas budaya.

Maksim kesantunan menurut Leech:

  1. Maksim kebijaksanaan: Kurangi kerugian orang lain dan tingkatkan keuntungannya
  2. Maksim kedermawanan: Kurangi keuntungan diri sendiri dan tingkatkan kerugiannya
  3. Maksim pujian: Kurangi cacian dan tingkatkan pujian terhadap orang lain
  4. Maksim kerendahan hati: Kurangi pujian dan tingkatkan cacian terhadap diri sendiri
  5. Maksim kesepakatan: Kurangi ketidaksepakatan dan tingkatkan kesepakatan
  6. Maksim simpati: Kurangi antipati dan tingkatkan simpati

Dalam konteks budaya Indonesia yang menjunjung tinggi harmoni sosial, pemahaman tentang kesantunan pragmatik sangat relevan. Cara masyarakat Indonesia menggunakan bahasa tidak langsung, eufemisme, dan strategi kesantunan lainnya dapat dijelaskan melalui kerangka teori ini.

PenerapanPragmatik dalam Kehidupan Sehari-hari

Pemahaman tentang pragmatik memiliki banyak aplikasi praktis dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan ini tidak hanya berguna secara akademis tetapi juga dapat meningkatkan kualitas komunikasi seseorang.

Penerapan pragmatik dalam berbagai konteks:

  • Memahami maksud tersirat dalam percakapan informal
  • Menginterpretasikan iklan dan pesan persuasif dengan lebih kritis
  • Berkomunikasi lebih efektif dalam konteks profesional
  • Menghindari kesalahpahaman dalam komunikasi lintas budaya
  • Menganalisis wacana media dan politik secara lebih tajam
  • Meningkatkan kemampuan dalam pembelajaran bahasa asing
  • Memahami humor dan ironi dalam bahasa

Dalam era digital, pragmatik juga relevan untuk memahami komunikasi melalui media sosial dan pesan singkat. Ketiadaan isyarat nonverbal membuat pemahaman konteks menjadi lebih menantang, sehingga pengetahuan pragmatik sangat membantu.

Pragmatik dalam Pembelajaran Bahasa

Kajian pragmatik memiliki implikasi penting dalam pembelajaran bahasa, baik bahasa ibu maupun bahasa asing. Kompetensi pragmatik dianggap sebagai bagian esensial dari kemampuan berbahasa yang harus dikembangkan oleh pembelajar.

Aspek pragmatik dalam pembelajaran bahasa:

  1. Memahami dan menggunakan tindak tutur yang tepat sesuai konteks
  2. Menguasai strategi kesantunan dalam budaya bahasa target
  3. Menginterpretasikan makna tersirat dan implikatur
  4. Menggunakan deiksis secara tepat
  5. Memahami norma percakapan dalam budaya target
  6. Menghindari kegagalan pragmatik yang dapat menyebabkan kesalahpahaman

Kegagalan pragmatik sering menjadi masalah yang lebih serius dibandingkan kesalahan gramatikal dalam komunikasi lintas budaya. Seseorang mungkin berbicara dengan tata bahasa sempurna tetapi tetap dianggap tidak sopan atau aneh karena tidak memahami norma pragmatik budaya target.

Kesimpulan

Pragmatik merupakan cabang linguistik yang sangat penting untuk memahami bagaimana bahasa benar-benar digunakan dalam komunikasi nyata. Melalui berbagai konsep seperti deiksis, tindak tutur, prinsip kerja sama, implikatur, dan kesantunan, pragmatik memberikan kerangka untuk menganalisis makna di balik ujaran yang melampaui makna harfiah kata-kata. Pemahaman tentang pragmatik tidak hanya bermanfaat bagi mahasiswa linguistik, tetapi juga bagi siapa saja yang ingin menjadi komunikator yang lebih efektif dan peka terhadap konteks.

Dalam konteks Indonesia yang kaya akan keberagaman budaya dan bahasa, kajian pragmatik menjadi semakin relevan. Memahami bagaimana masyarakat dari berbagai latar belakang menggunakan bahasa dalam konteks yang berbeda dapat membantu mengurangi kesalahpahaman dan meningkatkan harmoni sosial. Bagi para pembelajar, mendalami pragmatik akan membuka wawasan baru tentang kompleksitas dan keindahan bahasa sebagai alat komunikasi manusia yang paling canggih.

Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Pengetahuan

Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti: Tips Belajar Akuntansi agar Cepat Paham dan Tidak Bingung

Author

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *