studyinca.ac.id – Sebagai pembawa berita yang sering mengamati kehidupan akademik mahasiswa, saya melihat satu kebiasaan yang terlihat sederhana tapi punya dampak besar—highlight materi. Mungkin terlihat sepele, hanya menandai teks dengan warna tertentu. Tapi di balik itu, ada proses berpikir yang sebenarnya cukup dalam.
Highlight materi menjadi cara cepat untuk mengidentifikasi informasi penting di tengah banyaknya teks yang harus dipelajari. Dalam situasi kuliah yang padat, mahasiswa sering dihadapkan pada buku tebal, slide panjang, dan jurnal yang tidak selalu mudah dipahami. Di sinilah highlight menjadi semacam “filter visual” yang membantu otak menangkap inti dengan lebih cepat. Saya sendiri pernah melihat seorang mahasiswa yang bukunya penuh warna, dan awalnya terlihat berantakan. Tapi ketika ia menjelaskan, ternyata setiap warna punya arti. Dan itu cukup menarik.
Perbedaan Highlight dan Membaca Biasa

Banyak yang menganggap highlight hanya bagian dari membaca. Padahal, sebenarnya ada perbedaan cukup jelas. Membaca biasa cenderung pasif—mata bergerak, informasi masuk, tapi tidak selalu diproses secara mendalam. Sementara highlight, jika dilakukan dengan benar, melibatkan proses seleksi.
Mahasiswa harus memutuskan mana yang penting, mana yang bisa dilewati. Ini membuat proses belajar menjadi lebih aktif. Saya pernah mencoba membaca tanpa highlight, dan hasilnya terasa berbeda. Informasi cepat terlupakan. Tapi ketika mulai menandai poin penting, ada semacam “jejak visual” yang membantu mengingat. Mungkin bukan metode yang sempurna, tapi cukup efektif.
Teknik Highlight yang Tidak Asal Coret
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah highlight berlebihan. Semua dianggap penting, akhirnya semua diberi warna. Hasilnya? Tidak ada yang benar-benar menonjol. Ini cukup sering terjadi, terutama bagi mahasiswa yang baru mencoba metode ini.
Highlight materi seharusnya selektif. Hanya poin utama, definisi penting, atau konsep kunci yang ditandai. Dalam beberapa laporan pendidikan di Indonesia, disebutkan bahwa terlalu banyak highlight justru menurunkan efektivitas belajar. Karena otak kesulitan membedakan mana yang benar-benar penting.
Penggunaan Warna yang Membantu Visualisasi
Warna menjadi elemen penting dalam highlight materi. Tidak hanya untuk estetika, tapi juga untuk membantu otak mengelompokkan informasi. Misalnya, satu warna untuk definisi, warna lain untuk contoh, dan warna berbeda untuk kesimpulan.
Saya pernah mencoba menggunakan sistem warna ini, dan awalnya terasa agak ribet. Tapi setelah terbiasa, justru membantu. Saat membuka catatan, mata langsung tahu harus fokus ke bagian mana. Ini seperti membuat “peta” dalam teks yang panjang.
Highlight sebagai Alat Review yang Efektif
Salah satu manfaat terbesar dari highlight materi adalah saat review. Ketika waktu terbatas, mahasiswa tidak perlu membaca ulang seluruh materi. Cukup fokus pada bagian yang sudah ditandai.
Saya pernah melihat seorang mahasiswa yang hanya membaca highlight sebelum ujian. Awalnya terdengar terlalu sederhana, tapi ternyata cukup efektif. Karena highlight tersebut sudah berisi inti dari materi. Ini menunjukkan bahwa proses awal—menentukan apa yang di-highlight—menjadi sangat penting.
Peran Highlight dalam Memahami Materi Kompleks
Tidak semua materi mudah dipahami. Beberapa topik membutuhkan waktu lebih lama untuk diproses. Dalam situasi seperti ini, highlight bisa membantu memecah informasi menjadi bagian yang lebih kecil.
Dengan menandai poin penting, mahasiswa bisa fokus pada satu bagian sebelum berpindah ke bagian lain. Ini membuat proses belajar menjadi lebih terstruktur. Tidak langsung memahami semuanya, tapi perlahan-lahan. Dan mungkin, itu yang lebih realistis.
Kombinasi Highlight dengan Metode Lain
Highlight materi tidak harus berdiri sendiri. Ia bisa dikombinasikan dengan metode lain seperti ringkasan atau mind map. Ini justru bisa meningkatkan efektivitas belajar.
Saya pernah mencoba membuat ringkasan berdasarkan highlight, dan hasilnya cukup menarik. Karena highlight sudah menyaring informasi, proses merangkum menjadi lebih cepat. Ini seperti dua langkah yang saling melengkapi.
Tantangan dalam Menggunakan Highlight Materi
Meskipun terlihat mudah, ada beberapa tantangan dalam menggunakan highlight. Salah satunya adalah konsistensi. Tidak semua mahasiswa mampu mempertahankan kebiasaan ini dalam jangka panjang.
Selain itu, ada juga risiko terlalu bergantung pada highlight. Tanpa memahami konteks, highlight bisa kehilangan makna. Ini yang perlu diperhatikan. Highlight bukan tujuan, tapi alat bantu.
Adaptasi Highlight di Era Digital
Di era digital, highlight tidak lagi terbatas pada buku fisik. Banyak aplikasi yang memungkinkan pengguna menandai teks secara digital. Ini memberikan fleksibilitas, terutama bagi mahasiswa yang menggunakan e-book atau materi online.
Beberapa aplikasi bahkan memungkinkan highlight dengan berbagai warna dan kategori. Ini membuat proses belajar menjadi lebih terorganisir. Tapi di sisi lain, ada juga yang tetap memilih cara manual. Katanya, “lebih terasa kalau pakai stabilo.” Dan mungkin, itu soal preferensi.
Refleksi: Belajar Lebih Terarah dengan Highlight Materi
Pada akhirnya, highlight materi adalah tentang arah. Bagaimana mahasiswa memilih untuk fokus pada hal yang penting, bukan hanya membaca semuanya tanpa seleksi.
Sebagai pembawa berita, saya melihat ini sebagai salah satu teknik sederhana yang sering diremehkan. Padahal, jika digunakan dengan tepat, bisa memberikan dampak besar. Belajar menjadi lebih efisien, lebih terarah, dan mungkin… lebih menyenangkan.
Dan mungkin, di tengah banyaknya metode belajar yang kompleks, justru teknik sederhana seperti ini yang paling mudah diterapkan. Tidak butuh alat canggih, tidak butuh waktu lama. Hanya butuh kesadaran untuk memilih—mana yang penting, dan mana yang bisa dilewatkan.
Temukan Informasi Lengkapnya Tentang: Pengetahuan
Baca Juga Artikel Berikut: Skimming Scanning: Teknik Baca Cepat yang Wajib Dikuasai Mahasiswa

